x

Tradisi Unik Ruwat Desa Pagerngumbuk, Tumpeng Raksasa hingga Amben Mirip Keranda Jadi Sorotan

3 minutes reading
Monday, 18 May 2026 17:06 216 View Redaksi Tajuk.News

TAJUK SIDOARJO – Tradisi ruwat Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo kembali digelar meriah dan penuh makna. Sekilas pelaksanaannya hampir sama dengan tradisi ruwat desa di wilayah lain, seperti pengajian, ziarah makam leluhur, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Namun, ada keunikan tersendiri yang membuat tradisi tahunan ini menarik perhatian masyarakat.

Keunikan tersebut bukan terletak pada prosesi doa atau ritual adatnya, melainkan pada cara penyajian makanan untuk tasyakuran bersama warga. Selain puluhan nasi kuning dan belasan tumpeng raksasa berisi hasil pertanian, masyarakat Desa Pagerngumbuk juga menyajikan makanan di atas puluhan amben bambu yang sekilas menyerupai keranda jenazah.

Tradisi unik itu terlihat pada Minggu pagi (17/5/2026), ketika warga secara bergotong royong membawa amben berisi makanan menuju Balai Desa Pagerngumbuk. Makanan disusun memanjang di atas amben lalu ditutup menggunakan jarik atau kain batik sebelum diarak bersama-sama.

Sesampainya di Balai Desa Pagerngumbuk, puluhan amben tersebut langsung dijejer rapi di sisi kanan dan kiri pendopo balai desa. Suasana penuh kebersamaan tampak dari antusiasme warga yang sudah berkumpul sejak pagi untuk mengikuti tasyakuran Ruwat Desa Pagerngumbuk.

Acara semakin semarak dengan hadirnya Bupati Sidoarjo, H. Subandi, yang datang langsung di tengah masyarakat. Kedatangannya disambut secara unik oleh tokoh Hanoman dan para petani yang didaulat mengantarkannya menuju lokasi acara.

Dalam sambutannya, Bupati Sidoarjo H. Subandi memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan ruwat desa yang masih dijaga hingga kini. Menurutnya, tradisi tersebut merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai luhur.

“Tujuane nopo kok desa dislameti, desa diruwati?, biar desane pak lurah dalam penyelenggaraan pemerintahan diparingi gampang dan gangsar, mugi-mugi diparingi slamet sedoyo,” ujar Subandi.

Bupati Subandi menjelaskan bahwa tradisi ruwat desa menjadi bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil bumi yang telah diberikan. Selain itu, tradisi ini juga menjadi sarana memanjatkan doa demi keselamatan, kemakmuran, dan keberkahan bagi seluruh warga desa.

Menurutnya, tradisi Ruwat Desa Pagerngumbuk seperti ini juga mampu mempererat hubungan sosial antarwarga. Masyarakat dengan sukarela membawa hasil panen dan makanan untuk disantap bersama dalam suasana penuh kekeluargaan.

“Mudah-mudahan niat kita bersyukur kepada Allah diterima, mugi-mugi warga Desa Pagerngumbuk keluargane paringi sehat. Rumah tanggane dijadikan rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah,” ucapnya.

Ia juga mendoakan agar para petani Desa Pagerngumbuk diberikan hasil panen yang melimpah, tanaman yang subur, serta dijauhkan dari berbagai musibah.

Tradisi ruwat Desa Pagerngumbuk tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya lokal, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya di Kabupaten Sidoarjo. Keunikan arak-arakan amben bambu, tumpeng hasil bumi, hingga suasana gotong royong masyarakat menjadi gambaran kuatnya nilai kebersamaan yang masih terjaga.

Pelaksanaan tradisi Ruwat Desa Pagerngumbuk seperti ini diharapkan terus dilestarikan oleh generasi muda agar nilai budaya, rasa syukur, dan semangat persatuan masyarakat tetap hidup di tengah perkembangan zaman.(Ida)

LAINNYA
x