x

Sekprov Tahlis: SULUT BLUE DATA Bukan Sekadar Aplikasi, Tapi Ekosistem Kolaborasi

3 minutes reading
Monday, 2 Nov 2026 22:46 190 View Gian Limbanadi

TAJUKSULUT – Sekretaris Provinsi (Sekprov) Sulawesi Utara (Sulut), Tahlis Gallang, SIP, MM, menegaskan, bahwa inovasi SULUT BLUE DATA bukan sekadar platform digital, melainkan ekosistem kolaborasi untuk mendukung ekonomi biru di Sulut.

Hal itu disampaikan Tahlis dalam Talk Show bertajuk “Membangun Kolaborasi dan Integrasi Data Kelautan dan Perikanan Berbasis Digital guna Mendukung Pembangunan Ekonomi Biru di Sulawesi Utara” yang dirangkaikan dengan peluncuran SULUT BLUE DATA, yang berlangsung di Hotel The Sentra Manado, Selasa 02 November 2026.

Sekprov Tahlis juga menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulut dan seluruh pihak terkait yang telah memprakarsai kegiatan tersebut.

Menurutnya, SULUT BLUE DATA merupakan wujud komitmen Pemprov Sulut untuk mentransformasi tata kelola sektor kelautan dan perikanan menuju era digital yang transparan, terintegrasi, dan berbasis data ilmiah.

“SULUT BLUE DATA bukan sekadar aplikasi atau perangkat teknologi informasi semata. Lebih dari itu, ini adalah ekosistem kolaborasi dan integrasi data berbasis digital yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Tahlis.

Ia menjelaskan, potensi kelautan dan perikanan Sulut sangat besar. Produksi perikanan tangkap menembus lebih dari 370 ribu ton pada tahun 2025, ditopang komoditas bernilai tinggi seperti tuna, cakalang, tongkol, hingga malalugis. Potensi lahan budidaya juga mencapai lebih dari 171 ribu hektare di 15 kabupaten/kota.

Potensi besar tersebut, kata Tahlis, tidak akan optimal tanpa pengelolaan yang produktif, terukur, dan berkelanjutan. Sementara realitas saat ini, data kelautan dan perikanan masih tersebar di berbagai instansi, lembaga penelitian, NGO mitra, serta kelompok masyarakat dengan format dan mekanisme pemutakhiran yang beragam.

“Kondisi terfragmentasi ini menciptakan keterbatasan dalam menyusun gambaran secara utuh. Masalah inilah yang harus kita jawab melalui penguatan koordinasi dan keterhubungan data lintas sektor,” katanya.

Melalui SULUT BLUE DATA, Pemprov Sulut menjembatani hubungan antara science, data, and policy, yaitu mengkoneksikan data ilmiah, data ekologi, data perikanan, serta data sosial-ekonomi masyarakat ke dalam proses perumusan kebijakan publik.

“Keputusan pemerintah di masa depan tidak lagi berdasarkan asumsi, melainkan berbasis pada bukti riil dan analisis data yang valid,” tegasnya.

Tahlis juga menekankan, integrasi data tetap menghormati tugas, fungsi, kewenangan, hak kepemilikan, kerahasiaan data, serta mekanisme berbagi data sesuai aturan perundang-undangan dan semangat Satu Data Indonesia.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan SULUT BLUE DATA tidak ditentukan oleh kecanggihan sistem, melainkan oleh komitmen dan konsistensi bersama.

“Saya minta kepada seluruh Kepala Perangkat Daerah terkait dan DKP Kabupaten/Kota untuk menyiapkan penanggung jawab atau operator data yang jelas, membangun mekanisme kerja terstruktur, dan mengalokasikan dukungan sumber daya serta anggaran secara memadai,” ujarnya.

Ia berharap SULUT BLUE DATA menjadi instrumen strategis yang memperkuat pengelolaan kawasan konservasi perairan dan perikanan tangkap berkelanjutan, yang bermuara pada menjaga kelestarian laut Sulut sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan, pembudidaya, dan seluruh masyarakat pesisir.***

LAINNYA
x