Pelatihan kerajinan anyaman bambu yang digelar Disperinaker Kabupaten Bangkalan, di Kecamatan Tanah Merah, Senin (2/11/2026).(foto: Edi) TAJUK BANGKALAN – Pemerintah Kabupaten Bangkalan mulai mendorong pemanfaatan potensi bambu sebagai produk kerajinan bernilai ekonomi. Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni melalui pelatihan kerajinan anyaman bambu bagi masyarakat guna membuka peluang usaha sekaligus memperkuat sektor Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Program yang digelar Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja (Disperinaker) Kabupaten Bangkalan ini diikuti 20 warga Desa Tanah Merah Laok, Kecamatan Tanah Merah. Pelatihan resmi dibuka pada Senin (2/11/2026) dan berlangsung selama empat hari hingga Kamis 5 November 2026.
Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, Disperinaker menghadirkan dua perajin senior asal Yogyakarta. Keduanya bertugas memberikan materi sekaligus mendampingi peserta dalam praktik pembuatan berbagai kerajinan anyaman bambu secara langsung.
Kepala Bidang Industri Non Agro Disperinaker Bangkalan, Huzaimah, mengatakan pelatihan tersebut merupakan langkah strategis untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.
Menurutnya, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh kemampuan teknis dalam mengolah bambu, tetapi juga mampu menghasilkan produk kreatif yang memiliki nilai tambah dan berpeluang dikembangkan menjadi usaha produktif.
“Melalui pelatihan ini kami berharap para peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan dalam membuat kerajinan anyaman bambu, tetapi juga mampu mengembangkannya menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan berpotensi menjadi peluang usaha,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan potensi bambu secara optimal diharapkan dapat meningkatkan produktivitas masyarakat sekaligus mendorong daya saing IKM di Kabupaten Bangkalan.
Antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan menjadi salah satu modal positif bagi pengembangan kerajinan bambu di daerah tersebut. Namun, Huzaimah mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan semata.
Menurutnya, keberlanjutan usaha, konsistensi kualitas produk, ketersediaan bahan baku, serta kemampuan menjangkau pasar menjadi faktor penting agar keterampilan yang diperoleh peserta dapat berkembang menjadi sumber pendapatan.
Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan menjadi langkah awal lahirnya pelaku usaha kerajinan bambu di Bangkalan yang mampu mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi dan memiliki daya saing di pasar.(Edi)