x

Kelola Sampah dengan Biopori Organik, TPS 3R Desa Randuboto Bersih dan Bebas Bau

3 minutes reading
Monday, 18 May 2026 20:41 269 View Redaksi Tajuk.News

TAJUK GRESIK – Sistem inovasi biopori organik yang dihadirkan Pemerintah Desa Randuboto, Kecamatan Sidayu, berhasil menjadi solusi pengelolaan sampah yang rapi, inovatif, dan ramah lingkungan.

Berkat inovasi biopori organik serta manajemen Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R yang baik, Desa Randuboto kini berhasil menciptakan lingkungan yang bersih tanpa penumpukan sampah maupun bau menyengat seperti yang kerap terjadi di wilayah perkampungan lainnya.

Saat memasuki kawasan Desa Randuboto, pemandangan warga membakar sampah sembarangan di halaman rumah hampir sudah tidak ditemukan lagi. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan mulai tumbuh sejak program pengelolaan sampah berbasis biopori diterapkan pada 2024.

Kepala Desa Randuboto, Andy Sulandra, mengatakan bahwa pemerintah desa memiliki komitmen kuat untuk mengatasi persoalan sampah sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Menurut Andy, ide pembuatan biopori organik berawal dari keresahannya terhadap bau sampah yang sebagian besar berasal dari sisa makanan rumah tangga. Dari situlah ia mulai membuat lubang biopori menggunakan timba bekas untuk menampung sampah organik.

“Bau sampah itu kebanyakan berasal dari sisa makanan yang dibuang bercampur dengan sampah lain. Karena itu kami membuat biopori organik agar sampah rumah tangga bisa dipilah sejak dari rumah,” ujarnya saat ditemui di TPS 3R Desa Randuboto, Sabtu (16/5/2026).

Ia menjelaskan, terdapat dua jenis biopori yang diterapkan di Desa Randuboto, yakni biopori organik untuk sampah sisa makanan dan biopori resapan air untuk membantu penyerapan air ke dalam tanah.

Program tersebut kemudian dikembangkan secara menyeluruh hingga diterapkan kepada seluruh warga desa. Dengan adanya biopori organik di setiap rumah, volume sampah yang masuk ke TPS 3R dapat berkurang secara signifikan.

Sampah organik seperti buah, sayur, dan sisa makanan dimanfaatkan sebagai bahan kompos alami. Sampah yang dimasukkan ke dalam lubang biopori akan terurai oleh mikroorganisme tanah sehingga menghasilkan pupuk alami yang bermanfaat bagi kesuburan tanah.

Selain membantu mengurangi volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), lubang resapan biopori juga mampu mempercepat penyerapan air ke dalam tanah.

Sementara itu, sampah anorganik dipilah untuk dimanfaatkan kembali dan memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

“Dengan pemilahan sampah sejak dari rumah, pengelolaan di TPS menjadi lebih mudah dan lingkungan tetap bersih,” tambah Andy.

Keseriusan Pemerintah Desa Randuboto dalam menangani persoalan sampah juga diwujudkan melalui peraturan desa (Perdes). Dalam aturan tersebut, setiap warga diwajibkan memiliki biopori organik di rumah masing-masing.

Bahkan, warga yang hendak mengurus surat atau administrasi desa diwajibkan menunjukkan bukti pembuatan biopori dari RT dan RW setempat.

Langkah tersebut dinilai efektif dalam meningkatkan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan.

Sejak program dijalankan pada 2024, ribuan biopori organik telah tersebar di empat dusun, yakni Dusun Randuboto, Dusun Tanjung Sari, Dusun Ujung Sari, dan Dusun Ujung Timur.

Keberhasilan Desa Randuboto dalam mengelola sampah membuat TPS 3R desa tersebut menjadi perhatian banyak pihak. Pada Mei 2025 lalu, sejumlah pemerintah desa dari Pulau Bawean datang untuk belajar sistem pengolahan sampah yang diterapkan di Randuboto.

Mereka ingin mengetahui bagaimana TPS 3R Desa Randuboto bisa tetap bersih dan tidak menimbulkan bau.

Saat ini, TPS 3R Desa Randuboto telah mempekerjakan puluhan pekerja untuk memilah sampah setiap hari. Selain itu, terdapat petugas pengangkut sampah yang rutin berkeliling ke rumah-rumah warga.

“Petugas sampah setiap hari berkeliling ke rumah warga untuk membawa sampah ke TPS 3R agar lingkungan tetap bersih,” tutup Andy Sulandra.(Budi)

LAINNYA
x