TAJUKSULUT – Semangat berjejaring dan kolaborasi kreatif kembali bergema di Kota Kotamobagu. Pertemuan yang diinisiasi oleh Standius Bara Prima Limbaa, Koordinator Indonesai Creative Cites Network (ICCN) Sulawesi Utara (Sulut), menghadirkan komunitas kreatif, mahasiswa, hingga pegiat literasi untuk berbagi ide, gagasan, dan aspirasi.
Dalam forum tersebut, Bara menekankan pentingnya jejaring untuk menghidupkan kembali semangat komunitas kreatif yang sempat meredup karena minim dukungan pemerintah.
“Sulawesi Utara punya banyak potensi kreatif yang harus digali dan disupport. Dengan berjejaring, kita bisa saling menguatkan,” ujarnya.
Salah satu aspirasi datang dari komunitas literasi Kotamobagu. Mereka menyoroti kurangnya ruang publik yang kondusif untuk kegiatan literasi.
“Kami berharap ada taman atau ruang terbuka yang bisa difungsikan untuk kegiatan literasi dan kreatif, bukan sekadar tempat nongkrong,” ungkap Titi, pegiat literasi sekaligus fashion designer lokal.
Selain itu, Titi juga menyampaikan harapan agar karya-karya fashion lokal mendapat panggung lebih luas.
Ia memperkenalkan brand “Pilih Par”, yang terinspirasi dari bahasa Manado, dengan desain busana tertutup bernuansa kearifan lokal Bolaang Mongondow.
“Kami ingin karya fashion dari Kotamobagu bisa tampil, bahkan hingga ke Jakarta Fashion Week,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Bara menyatakan dukungan penuh.
Ia mendorong kolaborasi komunitas literasi dengan coffee shop sebagai basecamp mandiri, sekaligus membuka peluang fashion lokal tampil di ajang seperti Manado Fashion Week dan bahkan Indonesia Fashion Week.
“Semangatnya dulu yang harus dijaga. Kalau karya-karya ini diminati, kenapa tidak kita dorong ke panggung nasional,” tegasnya.
Pertemuan ini juga mendapat perhatian dari Anggota DPRD Sulut dari Partai Gerindra, Dhea E. Lumenta, yang hadir langsung mendengar aspirasi.
Dhea menegaskan komitmen legislatif untuk memperjuangkan ruang kreatif dan literasi di daerah.
“Aspirasi teman-teman literasi dan fashion ini sangat penting. Kami di DPRD akan berupaya agar pemerintah daerah memberi dukungan nyata, baik berupa fasilitas maupun program berkelanjutan. Industri kreatif harus jadi bagian dari pembangunan Sulawesi Utara,” ujar Dhea.
Pertemuan ini sekaligus menjadi ajang pendataan pelaku ekonomi kreatif di Sulut. Dari programmer game hingga desainer fashion, semua diharapkan bisa terhubung melalui platform Indonesia Creative Showcase.
Dengan dukungan jejaring, pemerintah daerah, dan komunitas, harapan besar muncul agar Sulut tak hanya dikenal dengan potensi alamnya, tetapi juga sebagai pusat industri kreatif yang bersinar di tingkat nasional.***