x

Pemkot Kotamobagu Perkuat Sekolah Ramah Anak, Guru Diminta Peka Cegah Kekerasan Sejak Dini

2 minutes reading
Tuesday, 6 Oct 2026 20:43 221 View Redaksi Tajuk.News

TAJUK KOTAMOBAGU — Pemerintah Kota (Pemkot) Kotamobagu memperkuat komitmen menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak. Pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah didorong menjadi bagian dari budaya pendidikan, bukan sekadar respons setelah terjadi kejadian.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Sosialisasi Pencegahan Kekerasan terhadap Anak yang digelar di Aula Pertemuan Dinas Pendidikan Kota Kotamobagu, Senin (5/10/2026). Kegiatan ini melibatkan para kepala sekolah dan guru se-Kota Kotamobagu.

Mewakili Wali Kota Kotamobagu dr. Weny Gaib, Sp.M., kegiatan tersebut dihadiri dan diberikan pengarahan oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Kota Kotamobagu, Sahaya S. Mokoginta.

Dalam arahannya, Sahaya menegaskan bahwa pencegahan kekerasan terhadap anak harus dimulai sebelum persoalan terjadi. Sekolah, kata dia, perlu memiliki kepekaan terhadap perubahan perilaku dan berbagai persoalan yang dihadapi peserta didik.

“Pencegahan bukan hanya bagaimana kita menangani kejadian setelah terjadi, tetapi bagaimana kita mampu membaca tanda-tanda kecil, membangun komunikasi, dan bertindak sebelum persoalan berkembang menjadi lebih besar,” ujar Sahaya.

Menurutnya, perubahan zaman turut mengubah pola interaksi dan tantangan yang dihadapi anak. Karena itu, pendekatan pendidikan perlu menyesuaikan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai pembentukan karakter.

“Zaman sudah berubah. Dunia anak-anak sekarang adalah dunia yang berbeda. Cara mendidik harus menyesuaikan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai baik yang ingin kita tanamkan,” katanya.

Sahaya juga menekankan bahwa pendekatan yang lebih ramah terhadap anak bukan berarti menghilangkan ketegasan guru. Guru tetap memiliki peran penting dalam membentuk disiplin dan karakter, namun ketegasan harus dilakukan secara profesional dan proporsional.

“Guru harus tetap tegas, tetapi ketegasan itu harus berada dalam koridor pendidikan dan perlindungan anak. Tegas tidak identik dengan keras,” tegasnya.

Ia meminta guru lebih aktif mengenali berbagai tanda yang dapat mengarah pada kekerasan maupun perundungan. Perubahan perilaku seperti anak yang tiba-tiba pendiam, sering menyendiri, kehilangan semangat belajar, takut bertemu seseorang, hingga perubahan kehadiran perlu mendapat perhatian.

Selain itu, guru diminta tidak mengabaikan ejekan berulang, pengucilan, konflik antarsiswa, relasi senior-junior, maupun perundungan melalui media sosial dan grup percakapan.

“Guru perlu hadir sejak persoalan masih kecil. Dengarkan anak, jangan langsung menyalahkan, dan segera ambil langkah yang tepat ketika menemukan tanda-tanda kekerasan atau perundungan,” ungkapnya.

Sahaya mengingatkan bahwa tidak semua anak memiliki keberanian untuk menceritakan persoalan yang dialaminya. Karena itu, guru perlu membangun komunikasi yang membuat peserta didik merasa aman untuk berbicara tanpa takut disalahkan atau dipermalukan.

“Yang dibutuhkan bukan kecurigaan terhadap setiap interaksi antar siswa, tetapi kepekaan untuk membedakan mana candaan dan mana tindakan yang sudah menimbulkan tekanan atau merendahkan anak,” tutupnya.

LAINNYA
x