Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., Rabu (20/5/2026).(foto: Ida) TAJUK SIDOARJO – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit virus hanta atau hantavirus. Imbauan tersebut menyusul diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan Nomor SR.03.01/C/2572/2026 tanggal 10 Mei 2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina, M.Kes., memastikan hingga saat ini belum ditemukan maupun dilaporkan adanya kasus hantavirus di wilayah Kabupaten Sidoarjo. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada dan tidak mengabaikan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
“Sampai hari ini di Sidoarjo belum ada laporan terkait kasus yang dicurigai hantavirus. Namun masyarakat tetap kami imbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kebersihan lingkungan maupun pola hidup sehat,” ujar dr. Lakhsmie, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus dari kelompok Orthohantavirus. Virus ini dapat ditularkan melalui tikus maupun celurut yang telah terinfeksi. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, air liur hewan yang terinfeksi, hingga debu atau udara yang terkontaminasi partikel virus.
Dr. Lakhsmie menjelaskan bahwa penyakit ini memiliki dua manifestasi klinis utama, yaitu Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan.
“Gejala yang perlu diwaspadai antara lain demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, hingga gangguan pernapasan. Pada kondisi berat bisa menyebabkan gangguan ginjal maupun penumpukan cairan di paru-paru,” jelasnya.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sejak tahun 2024 hingga minggu epidemiologi ke-18 tahun 2026 tercatat sebanyak 23 kasus konfirmasi HFRS di Indonesia yang tersebar di sembilan provinsi, termasuk Jawa Timur. Sementara itu, kasus HPS hingga saat ini belum pernah dilaporkan terjadi di Indonesia.
Meski angka kasus masih relatif rendah, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat penyakit ini dapat menimbulkan komplikasi serius apabila tidak ditangani secara cepat dan tepat.
Untuk mencegah penularan, Dinkes Sidoarjo mengajak masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar, mengendalikan populasi tikus, serta menghindari kontak langsung dengan hewan pengerat maupun kotorannya.
Selain itu, masyarakat juga diingatkan untuk menjaga daya tahan tubuh melalui pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, berolahraga secara teratur, dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
“Kami mengimbau masyarakat menjaga keseimbangan aktivitas, istirahat cukup, konsumsi makanan bergizi, dan segera berobat ke fasilitas kesehatan terdekat bila mengalami demam tinggi, nyeri seluruh tubuh, maupun keluhan lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari,” tegas dr. Lakhsmie.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga terus memperkuat sistem surveilans dan pemantauan penyakit menular guna memastikan deteksi dini apabila ditemukan kasus yang mengarah pada infeksi hantavirus.
Dengan meningkatkan kewaspadaan dan menerapkan pola hidup bersih serta sehat, masyarakat diharapkan dapat terhindar dari berbagai penyakit zoonosis, termasuk hantavirus yang saat ini menjadi perhatian Kementerian Kesehatan RI.(Ida)