Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, saat meninjau pengolahan Kolak Ayam atau Sanggring di area Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kamis (12/3/2026).(foto: Budi)TAJUK GRESIK – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, meninjau langsung proses pengolahan Kolak Ayam atau Sanggring di area Masjid Jami’ Sunan Dalem, Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Kamis (12/3/2026).
Bupati yang akrab disapa Gus Yani tersebut mengapresiasi tradisi Sanggring atau Kolak Ayam yang telah menjadi warisan budaya Islam masyarakat Desa Gumeno selama kurang lebih 501 tahun. Tradisi ini berkaitan erat dengan perjuangan dakwah Sunan Dalem, putra Sunan Giri.
Menurutnya, tradisi tersebut tidak sekadar kegiatan makan bersama, tetapi juga menjadi simbol kepatuhan spiritual serta penghormatan terhadap perjuangan dakwah para ulama di masa lampau.
“Tradisi Sanggring Kolak Ayam ini sudah berusia ratusan tahun dan harus terus dilestarikan. Selain sebagai kuliner warisan leluhur, hidangan ini juga diyakini memiliki khasiat sebagai obat,” ujar Gus Yani.
Ia menjelaskan, sejarah kolak ayam bermula dari kebiasaan Sunan Dalem yang membuat hidangan tersebut sebagai obat ketika mengalami sakit saat membangun masjid di Desa Gumeno dalam proses menyebarkan Islam.
“Resep tersebut ternyata mujarab karena mampu menyembuhkan sakit Sunan Dalem maupun warga sekitar,” tuturnya.
Lebih lanjut, Gus Yani menegaskan bahwa tradisi kolak ayam merupakan bentuk apresiasi sekaligus pelestarian budaya peninggalan Sunan Dalem yang dikenal sebagai salah satu tokoh penyebar agama Islam di pesisir utara Gresik sekitar tahun 1541 Masehi.
Ia juga mengajak generasi muda Desa Gumeno untuk terus diberi pemahaman mengenai sejarah dan makna tradisi tersebut agar tetap lestari di tengah pesatnya perkembangan Gresik sebagai kota industri.
“Tahun 2019 tradisi ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh pemerintah. Hal ini semakin memperkuat identitas sosial dan religi masyarakat Gresik,” tambahnya.
Dalam tradisi yang digelar setiap malam ke-23 bulan Ramadan tersebut, panitia tahun ini mengolah sekitar 240 ekor ayam, 225 kilogram bawang daun, 525 butir kelapa, 650 kilogram gula merah, serta 50 kilogram jinten bubuk. Hidangan kolak ayam itu kemudian disajikan dalam sekitar 3.000 porsi untuk para tamu dan jamaah yang hadir.
Sementara itu, Kepala Desa Gumeno, Fathoni, mengatakan jumlah jamaah yang datang tahun ini melebihi perkiraan.
“Lebih dari 3.000 orang hadir. Banyak yang datang dari luar desa seperti Bungah, Sidayu, Gresik kota, bahkan dari Surabaya,” ujarnya.
Ia berharap tradisi ini dapat terus dipertahankan di tengah perkembangan Gresik sebagai kawasan industri. Untuk itu, warga Desa Gumeno selalu melibatkan generasi muda dalam setiap kegiatan pembuatan kolak ayam agar tradisi tersebut memiliki penerus.
Menurutnya, ada perbedaan dalam penyajian kolak ayam tahun ini. Jika sebelumnya hidangan disajikan menggunakan piring, kini dibagikan menggunakan kemasan plastik.
“Ya memang tahun ini menggunakan kemasan plastik karena lebih praktis. Selain itu penyelenggaraan tahun ini juga masih terkendala dana yang minim,” jelasnya.
Salah satu jamaah, Aris, warga Surabaya, mengaku sengaja datang karena penasaran dengan rasa kolak ayam yang menjadi tradisi khas Desa Gumeno tersebut.
“Penasaran saja, biasanya kolak itu pisang atau singkong. Ini kolak ayam rasanya ternyata manis dan lezat,” katanya. Ia juga mengaku terkesan dengan suasana kebersamaan warga Desa Gumeno dalam menjalankan tradisi tersebut sebelum akhirnya kembali pulang.(Budi)